RELAWAN TERPAKSA TIDUR DI KANTONG MAYAT

Diposkan oleh Hariestelle

Evakuasi SUKHOI



Kisah unik yang terjadi dalam kegiatan evakuasi korban pesawat sukhoi superjet 100. Yang jatuh di gunung salak Bogor Jawa Barat tersebut.
Tidur Pakai Kantong Mayat Karena ternyata medan cukup sulit, pekerjaan pun tidak bisa diselesaikan hari itu. Empat personil FPTI dan Kopassus akhirnya terpaksa bermalam di lokasi kecelakaan dengan perlengkapan seadanya.
"Kami tidak ada persiapan menginap dan tidak bawa bekal karena pikir nanti akan ada tim lagi yang datang bawa peralatan, ternyata cuaca buruk dan kami harus menginap. Jadi, terpaksa tidur di atas kantung mayat yang nggak terpakai," kenang Revalino.
Mereka berempat, kata Revalino, memutuskan tidur di dekat bibir tebing yang memiliki tanah lebih datar. Namun, ternyata di tempat mereka bermalam itu terdapat jasad-jasad korban Sukhoi yang sudah berhasil dikumpulkan tim evakuasi dan tinggal menunggu evakuasi esok hari.
"Saya lihat ada karung-karung jasad korban di depan saya tidur. Saya nggak lihat isinya apa, tapi baunya ya cukup terasa," papar Revalino.
Tantangan lain yang harus dihadapi dua anggota FPTI ini adalah perbekalan. Karena tidak berencana menginap, Revalino mengaku sama sekali tidak membawa makanan. "Kita akhirnya makan ransum TNI jam 17.00 dan baru makan lagi pukkul 17.00 keesokan harinya setelah turun," ungkap Revalino.
Kendati demikian, Revalino menilai medan lokasi kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet sebetulnya tidak terlalu sulit. "Asal perlengkapannya memadai dan kita sudah terbiasa ya tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan," tandasnya.
Jumlah kecil tak memadamkan komunitas ini untuk turut membantu melakukan evakuasi. Buktinya, meski berjumlah minim, tim FPTI berhasil membantu Kopassus menemukan ELT dan kotak hitam yang menjadi komponen penting penyelidikan sebab kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100.
Atas jasanya ini, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono memberikan piagam penghargaan kepada mereka. Tidak ada uang yang dihadiahkan. Hal ini disadari betul bagi para relawan.
"Ya, kami kan ke sini sukarelawan membantu. Jadi, wajar saja nggak dikasih uang. Tapi untuk ongkos sudah ada dari federasi. Sementara untuk makan, tempat tinggal selalu ada saja yang bantu di lapangan," pungkas Inu, rekan Revalino di FPTI.

Artikel Terkait